Kamis, 24 Juli 2014

cerpen

--- Hadiah dari Ratna

Namanya ratna, dia berumur 20 tahun. Rambutnya hitam sebahu, tinggi semampai,berhidung mancung, berkulit coklat, bermata sipit dan berwarna coklat juga. Anak pertama dari tiga bersaudara keturunan jawa yang tinggal di ibukota.  Dia masih duduk di bangku perkuliahan di salah satu Universitas Negeri di Jakarta. Anak yang rajin dan juga pintar. Sejak SMA dia sudah ikut bekerja dan membantu ibunya berdagang. Pagi itu ia akan berangkat ke kampusnya yang jaraknya agak jauh dari rumahnya,kira-kira 2 jam waktu perjalanannya dengan bus umum. Dengan  cuaca yang begitu cerah, ia sudah rapi dengan memakai blouse merah dan bawahan celana jeans hitam sepatu kets tak lupa rambutnya dikuncir kuda. Melawan kerasnya ibukota dan segala macam gangguannya. Sebelum ia berangkat berbincang sebentar dengan ibunya yang sedang menyiapkan dagangan setelah dibantu olehnya.
“berangkat nduk, ucap sang mama lembut”
“iya bu”. Dilangkahkannya kaki keluar rumah menuju kampus
“ibu” dia bergumam “setiap hari berjualan kue dan lainnya untuk aku, aku anak pertama yang saat ini menginjak bangku kuliah belum bisa memberi yang terbaik untuknya. Ucapnya dalam hati . saat  melewati teras rumahnya terlihat sang ayah sedang memperbaiki motor lamanya.
“pak, Ratna berangkat” sambil mencium tangan ayahnya
Sambil menyusuri jalan setapak rumahnya menuju halte tempatnya biasa menunggu bus. Masih teringat di benaknya gurat-gurat wajah kedua orangtuanya saat mereka tahu bahwa Ratna lolos SNMPTN di salah satu universitas negeri di Jakarta. Besar harapan beliau untuk anak pertamanya itu menjadi sukses kelak. Dia selalu berkata di dalam hati “ Aku sukses di kemudian hari dan bisa menyekolahkan kedua adikku “
“Ratna,  tugas dasar manajemen udah? Aku bete deh laptop aku ngehang terus jadi ga sempet ngerjain. Oh iya kamu mau ikut lomba ga itu yang ada di mading tapi ga mutu banget. Kalo engga salah sih tentang memperingati hardiknas gitu temanya bebas. Ya posternya gede tapi masa juara satu hadiahnya cuma satu juta sama netbook yaa aku sih kaya gitu juga punya.” Ujar salah satu temannya.
“Dasar Manajemen? Aku belum.” Jawabnya lirih, sambil berlalu sesaat untuk menghindari mereka, yaa mereka orang dari kalangan keluarga berada yang bisa memiliki apa saja. Sementara masih banyak orang yang sudah bisa makan saja sangat bersyukur. “Buatku bisa kuliah saja sudah suatu anugerah.” Ucapnya dalam hati.

“Kok pulangnya malam nduk?”
“Aku dari warnet bu, ada tugas kuliah dan dua hari lagi harus dikumpulkan. Iya ada ap bu?”
“Tadinya ibu mau minta dipijit, tapi tak usahlah sepertinya kamu lelah”
“Ibu.. masih keliling kampung jualan dengan jalan kaki?”
“Engga nduk, sekarang pagi sama sore. Mungkin kalo ada sepeda enak ya”
Tiba tiba ayahnya datang sepulang kerja dari pabrik industrinya.
“Jangan dengarkan ibumu, kuliah saja yang benar. Tak usahlah berfikir mau beli sepeda, bapak itu isi kepalamu”
“iya pak”
(Ratna pun berlalu dan masuk ke kamar, terlihat dua adik kembarnya sudah terlelap tidur. Rina dan Rani yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejenak dia teringat perkataan teman kampusnya mengenai lomba menulis artikel, lau terbayang kata-kata ibunya yang menginginkan sepeda. Keesokkan harinya Ratna masih terduduk di meja belajarnya berkutat dengan artikel yang sedang ia buat. Dan rencananya akn ia serahkan kepada panitia lomba artikel tingkat kampus.)
.....
“Semoga ini bisa membuat ibu tidak kelelahan lagi dan tak usah berjalan berkeliling kampung.”
(Kemudian Ratna memasukkan amplop map coklat itu ke dalam  box panitia lomba tersebut sambil melakukan pendaftaran, karena ia belum mendaftarkan dirinya di lomba ini)
“Namanya Ratna Karim betul?”
“iya betul”
“Jurusan Ekonomi Manajemen”
“iya betul”
“Oke kamu tanda tangan disini ya. Tunggu dua minggu lagi, nanti kamu bisa lihat pengumuman pemenangnya di mading. Banyak berdoa ya semoga kamu bisa menjadi salh satu pemenangnya”
“oh iya terima kasih ka”
............
Sesampainya di rumah, ibunya langsung mengahmpirinya dan menanyakan perihal semalam.
“Nduk, kata bapak kamu semalam begadang kenapa?”
“Oh engga apa-apa kok bu. Tugasku kan sebentar lagi dikumpulkan jadi mengerjakannya agak dipercepat”
“oh ya sudah kalau ada apa-apa atau ada masalah kamu harus cerita ya.”
Dua minggu kemudian.
“Ratnaaaa..”
(Dilla, salah satu kawan Ratna. Rambutnya sebahu, berkacamata, berkulit putih dan agak lebih tinggi dari Ratna dari arah belakang berlari tergesa-gesa memanggil Ratna yang sedang berjalan di depannya. Menghampiri dengan membawa kabar gembira)
“kamu menaaang. Kamu menaaaang!!!”
“Menang apa?”
“Itu lomba artikel sekampus, yaampuuun.”
“waaah Alhamdulillah. Kamu serius?”
“iyaaaa beneran, tadi kan aku lewat aula terus baca pengumuman eh ada nama kamu. Cepet ke Aula sana. Udah di tunggu anak BEM tuh”
“Makasih Dil”
(Ratna pun lalu berlari menuju aula, ternyata sudah ramai oleh para panitia dan pemenang. Lalu dia pun menghampiri panitia dan melakukan registrasi ulang bagi para pemenang)
“permisi ka, nama saya Ratna Karim. Tadi saya belum sempat lihat di mading tapi ada teman saya yang memberi tahu bahwa saya menjadi salah satu pemenang di lomba artikel ini.”
“oh ya sudah kamu duduk saja dulu bersama para pemenang yang lain. nanti akan di umumkan para juaranya”
“baik, terima kasih ka”
......
Dia menunggu kurang lebih setengah jam, pemenang yang diumumkan lebih dahulu adalah pemenang hadiah hiburan. Mereka mendapat bingkisan dari panitia lomba lingkar pena menulis sekampus.
“pemenang juara satu lomba menulis artikel adalah Ratna Karim, Ekonomi Manajemen 2012”
(seketika Ratna pun meneteskan air mata, lututnya gemetar, tubuhnya lemas mendengar bahwa dialah juara satu dalam lomba ini. Dia pun maju dan meraih hadiah tersebut, uang sebesar satu juta rupiah beserta sebuah kotak bingkisan yang terdapat sebuah netbook di dalamnya)
 “ kriiing. Kriing”
“Ratnaaa ............ “( ucap bapak dan ibunya secara bersamaan)
“Ini sepeda buat ibu”
“Kamu beli pakai uang siapa nak?”
“Ratna menang lomba artikel antar kampus bu, aku juga dapat ini”
(Ratna menunjukkan netbook barunya)

“ Terima kasih nak sekarang ibu bisa berjualan dengan menggunakan sepeda ini, tak perlu berjalan kaki lagi.” ( Sang ibu pun meneteskan air matanya, dan mereka sekeluarga pun saling berpelukkan. Ada Ratna, ayah, ibu dan adik kembarnya ).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar