--- Hadiah
dari Ratna
Namanya
ratna, dia berumur 20 tahun. Rambutnya hitam sebahu, tinggi semampai,berhidung
mancung, berkulit coklat, bermata sipit dan berwarna coklat juga. Anak pertama
dari tiga bersaudara keturunan jawa yang tinggal di ibukota. Dia masih duduk di bangku perkuliahan di
salah satu Universitas Negeri di Jakarta. Anak yang rajin dan juga pintar.
Sejak SMA dia sudah ikut bekerja dan membantu ibunya berdagang. Pagi itu ia
akan berangkat ke kampusnya yang jaraknya agak jauh dari rumahnya,kira-kira 2
jam waktu perjalanannya dengan bus umum. Dengan
cuaca yang begitu cerah, ia sudah rapi dengan memakai blouse merah dan
bawahan celana jeans hitam sepatu kets tak lupa rambutnya dikuncir kuda.
Melawan kerasnya ibukota dan segala macam gangguannya. Sebelum ia berangkat
berbincang sebentar dengan ibunya yang sedang menyiapkan dagangan setelah
dibantu olehnya.
“berangkat nduk,
ucap sang mama lembut”
“iya bu”.
Dilangkahkannya kaki keluar rumah menuju kampus
“ibu”
dia bergumam “setiap hari berjualan kue dan lainnya untuk aku, aku anak pertama
yang saat ini menginjak bangku kuliah belum bisa memberi yang terbaik untuknya.
Ucapnya dalam hati . saat melewati teras
rumahnya terlihat sang ayah sedang memperbaiki motor lamanya.
“pak, Ratna
berangkat” sambil mencium tangan ayahnya
Sambil menyusuri
jalan setapak rumahnya menuju halte tempatnya biasa menunggu bus. Masih
teringat di benaknya gurat-gurat wajah kedua orangtuanya saat mereka tahu bahwa
Ratna lolos SNMPTN di salah satu universitas negeri di Jakarta. Besar harapan
beliau untuk anak pertamanya itu menjadi sukses kelak. Dia selalu berkata di
dalam hati “ Aku sukses di kemudian hari dan bisa menyekolahkan kedua adikku “
“Ratna, tugas dasar manajemen udah? Aku bete deh
laptop aku ngehang terus jadi ga sempet ngerjain. Oh iya kamu mau ikut lomba ga
itu yang ada di mading tapi ga mutu banget. Kalo engga salah sih tentang memperingati
hardiknas gitu temanya bebas. Ya posternya gede tapi masa juara satu hadiahnya
cuma satu juta sama netbook yaa aku sih kaya gitu juga punya.” Ujar salah satu
temannya.
“Dasar
Manajemen? Aku belum.” Jawabnya lirih, sambil berlalu sesaat untuk menghindari
mereka, yaa mereka orang dari kalangan keluarga berada yang bisa memiliki apa
saja. Sementara masih banyak orang yang sudah bisa makan saja sangat bersyukur.
“Buatku bisa kuliah saja sudah suatu anugerah.” Ucapnya dalam hati.
“Kok pulangnya
malam nduk?”
“Aku dari warnet
bu, ada tugas kuliah dan dua hari lagi harus dikumpulkan. Iya ada ap bu?”
“Tadinya ibu mau
minta dipijit, tapi tak usahlah sepertinya kamu lelah”
“Ibu.. masih
keliling kampung jualan dengan jalan kaki?”
“Engga nduk,
sekarang pagi sama sore. Mungkin kalo ada sepeda enak ya”
Tiba tiba
ayahnya datang sepulang kerja dari pabrik industrinya.
“Jangan
dengarkan ibumu, kuliah saja yang benar. Tak usahlah berfikir mau beli sepeda,
bapak itu isi kepalamu”
“iya pak”
(Ratna pun
berlalu dan masuk ke kamar, terlihat dua adik kembarnya sudah terlelap tidur.
Rina dan Rani yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejenak dia teringat
perkataan teman kampusnya mengenai lomba menulis artikel, lau terbayang
kata-kata ibunya yang menginginkan sepeda. Keesokkan harinya Ratna masih
terduduk di meja belajarnya berkutat dengan artikel yang sedang ia buat. Dan
rencananya akn ia serahkan kepada panitia lomba artikel tingkat kampus.)
.....
“Semoga ini bisa
membuat ibu tidak kelelahan lagi dan tak usah berjalan berkeliling kampung.”
(Kemudian Ratna
memasukkan amplop map coklat itu ke dalam
box panitia lomba tersebut sambil melakukan pendaftaran, karena ia belum
mendaftarkan dirinya di lomba ini)
“Namanya Ratna
Karim betul?”
“iya betul”
“Jurusan Ekonomi
Manajemen”
“iya betul”
“Oke kamu tanda
tangan disini ya. Tunggu dua minggu lagi, nanti kamu bisa lihat pengumuman
pemenangnya di mading. Banyak berdoa ya semoga kamu bisa menjadi salh satu
pemenangnya”
“oh iya terima
kasih ka”
............
Sesampainya di
rumah, ibunya langsung mengahmpirinya dan menanyakan perihal semalam.
“Nduk, kata
bapak kamu semalam begadang kenapa?”
“Oh engga
apa-apa kok bu. Tugasku kan sebentar lagi dikumpulkan jadi mengerjakannya agak
dipercepat”
“oh ya sudah
kalau ada apa-apa atau ada masalah kamu harus cerita ya.”
Dua minggu kemudian.
“Ratnaaaa..”
(Dilla, salah
satu kawan Ratna. Rambutnya sebahu, berkacamata, berkulit putih dan agak lebih
tinggi dari Ratna dari arah belakang berlari tergesa-gesa memanggil Ratna yang sedang
berjalan di depannya. Menghampiri dengan membawa kabar gembira)
“kamu menaaang.
Kamu menaaaang!!!”
“Menang apa?”
“Itu lomba
artikel sekampus, yaampuuun.”
“waaah
Alhamdulillah. Kamu serius?”
“iyaaaa beneran,
tadi kan aku lewat aula terus baca pengumuman eh ada nama kamu. Cepet ke Aula
sana. Udah di tunggu anak BEM tuh”
“Makasih Dil”
(Ratna pun lalu
berlari menuju aula, ternyata sudah ramai oleh para panitia dan pemenang. Lalu
dia pun menghampiri panitia dan melakukan registrasi ulang bagi para pemenang)
“permisi ka,
nama saya Ratna Karim. Tadi saya belum sempat lihat di mading tapi ada teman
saya yang memberi tahu bahwa saya menjadi salah satu pemenang di lomba artikel
ini.”
“oh ya sudah
kamu duduk saja dulu bersama para pemenang yang lain. nanti akan di umumkan
para juaranya”
“baik, terima
kasih ka”
......
Dia menunggu
kurang lebih setengah jam, pemenang yang diumumkan lebih dahulu adalah pemenang
hadiah hiburan. Mereka mendapat bingkisan dari panitia lomba lingkar pena
menulis sekampus.
“pemenang juara
satu lomba menulis artikel adalah Ratna Karim, Ekonomi Manajemen 2012”
(seketika Ratna
pun meneteskan air mata, lututnya gemetar, tubuhnya lemas mendengar bahwa
dialah juara satu dalam lomba ini. Dia pun maju dan meraih hadiah tersebut,
uang sebesar satu juta rupiah beserta sebuah kotak bingkisan yang terdapat
sebuah netbook di dalamnya)
“ kriiing. Kriing”
“Ratnaaa
............ “( ucap bapak dan ibunya secara bersamaan)
“Ini sepeda buat
ibu”
“Kamu beli pakai
uang siapa nak?”
“Ratna menang
lomba artikel antar kampus bu, aku juga dapat ini”
(Ratna
menunjukkan netbook barunya)
“ Terima kasih
nak sekarang ibu bisa berjualan dengan menggunakan sepeda ini, tak perlu
berjalan kaki lagi.” ( Sang ibu pun meneteskan air matanya, dan mereka
sekeluarga pun saling berpelukkan. Ada Ratna, ayah, ibu dan adik kembarnya ).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar