Ini
cerita beberapa minggu yang lalu, jadi begini..
Di
rumah,aku mengadakan kegiatan belajar bersama beberapa anak sekolah dasar dan
sekolah menengah pertama, selepas kegiatan mengajar dari pagi sampai siang
bahkan sampai sore atau malam di salah satu sekolah dasar negeri di kabupaten
Tangerang. Sekitar 4 – 6 anak yang belajar membaca jam 4 sore, lalu ada 4 anak
smp yang belajar selepas maghrib.
Di
awal bulan Oktober ini, mereka akan menghadapi UTS (Ulangan Tengah Semester).
Seperti biasa mereka belajar dan latihan beberapa soal. Kadang bila jenuh sudah
merasuki diri mereka, yaaa pasti dengar musik atau nonton beberapa video.
Hari
itu malam senin, anak anak memang libur les. Ada rekan mama yang datang untuk
mendaftarkan anaknya untuk ikut belajar bersamaku dan beberapa anak smp
lainnya. Aku ragu, apa harus diterima belajar atau menolaknya dengan halus. Ada
alasan konkret yang memang harus aku pertimbangkan.
Iya.
Esok
harinya sudah UTS.
Itu
alasan yang membuatku berfikir
“ya, baiklah rasa rasanya ditolak saja akan berat tanggung
jawabmu fat bila menerima dua anak itu untuk Les dengan ditarget bagus karena
besok UTS. Lagipula sudah 4 anak yang belajar, pasti tidak akan fokus jika
harus ditambah”
Lain
dari itu, anak anak juga sudah tidak ingin jika ada anak baru untuk les lagi.
Bukannya
menolak rejeki, bukan… bukan itu sama sekali
Tapi
bukankah, akan sangat berat tanggung jawab yang aku emban jika ku terima anak
itu untuk belajar bersama sama yang lain. Esok paginya dia sudah UTS, tapi dia
datang dengan tiba tiba ingin les, plus dengan kedua anaknya pula.
Ah..
tolong hargai orang lain ya.
Bukan
materi saja yang dikejar kalau dalam hal seperti ini, ada banyak pertimbangan
pertimbangan yang memang harus difikir ulang.
Kemudian
ku katakan baik baik, bahwa aku tidak siap jika menerima anak ibu itu. Tak lama
ibu itu ditelefon anaknya yang sudah datang didepan rumahku.
Aneh,
Aku
belum memberikan keputusan ya atau tidak, tapi sudah datang saja.
Selesai
menelefon, ibu tersebut berbicara sedikit dengan raut muka yang berubah 3600
ya
ampun aku bingung sekali, akupun menjelaskan dengan meminta maaf bahwa tidak
bisa menerima anak ibu itu untuk les. Karena, memang banyak alasan yang harus
kupertimbangkan.
Ibu
itu, langsung pergi tanpa mengucap salam dan senyum sedikit pun.
Setelah
kejadian itu, beliau tidak pernah menyapa atau senyum kembali seperti biasanya
jika kami saling berpapasan.
Kadang
orang tidak paham keadaan kita, kadang juga meng-gampang-kan setiap hal tanpa
rasa menghargai keadaan kita.
Datang
di saat butuh, tapi ketika kita tidak bisa membantunya maka dia akan
mengacuhkan atau bahkan melebih-lebihkan cerita tentang kita kepada orang lain.
Bukan
satu atau dua kali aku mengalami hal seperti ini, yaaaa abaikan saja sambil
didoakan yang baik baik. Orang jahat itu ya jangan dijahati lagi, tetap sama
saja sikap kita terhadapnya.
Iya..
tetap Baik saja, mari belajar menghargai orang lain ya. Masih mau punya teman
teman yang baik kan? J
--SITI
FATIMAH 19102014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar