Sabtu, 18 Oktober 2014

Mari belajar menghargai



Ini cerita beberapa minggu yang lalu, jadi begini..

Di rumah,aku mengadakan kegiatan belajar bersama beberapa anak sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, selepas kegiatan mengajar dari pagi sampai siang bahkan sampai sore atau malam di salah satu sekolah dasar negeri di kabupaten Tangerang. Sekitar 4 – 6 anak yang belajar membaca jam 4 sore, lalu ada 4 anak smp yang belajar selepas maghrib.

Di awal bulan Oktober ini, mereka akan menghadapi UTS (Ulangan Tengah Semester). Seperti biasa mereka belajar dan latihan beberapa soal. Kadang bila jenuh sudah merasuki diri mereka, yaaa pasti dengar musik atau nonton beberapa video.
Hari itu malam senin, anak anak memang libur les. Ada rekan mama yang datang untuk mendaftarkan anaknya untuk ikut belajar bersamaku dan beberapa anak smp lainnya. Aku ragu, apa harus diterima belajar atau menolaknya dengan halus. Ada alasan konkret yang memang harus aku pertimbangkan.
Iya.
Esok harinya sudah UTS.
Itu alasan yang membuatku berfikir
 “ya, baiklah rasa rasanya ditolak saja akan berat tanggung jawabmu fat bila menerima dua anak itu untuk Les dengan ditarget bagus karena besok UTS. Lagipula sudah 4 anak yang belajar, pasti tidak akan fokus jika harus ditambah”


Lain dari itu, anak anak juga sudah tidak ingin jika ada anak baru untuk les lagi.
Bukannya menolak rejeki, bukan… bukan itu sama sekali
Tapi bukankah, akan sangat berat tanggung jawab yang aku emban jika ku terima anak itu untuk belajar bersama sama yang lain. Esok paginya dia sudah UTS, tapi dia datang dengan tiba tiba ingin les, plus dengan kedua anaknya pula.
Ah.. tolong hargai orang lain ya.
Bukan materi saja yang dikejar kalau dalam hal seperti ini, ada banyak pertimbangan pertimbangan yang memang harus difikir ulang.
Kemudian ku katakan baik baik, bahwa aku tidak siap jika menerima anak ibu itu. Tak lama ibu itu ditelefon anaknya yang sudah datang didepan rumahku.
Aneh,
Aku belum memberikan keputusan ya atau tidak, tapi sudah datang saja.
Selesai menelefon, ibu tersebut berbicara sedikit dengan raut muka yang berubah 3600
ya ampun aku bingung sekali, akupun menjelaskan dengan meminta maaf bahwa tidak bisa menerima anak ibu itu untuk les. Karena, memang banyak alasan yang harus kupertimbangkan.
Ibu itu, langsung pergi tanpa mengucap salam dan senyum sedikit pun.
Setelah kejadian itu, beliau tidak pernah menyapa atau senyum kembali seperti biasanya jika kami saling berpapasan.

Kadang orang tidak paham keadaan kita, kadang juga meng-gampang-kan setiap hal tanpa rasa menghargai keadaan kita.
Datang di saat butuh, tapi ketika kita tidak bisa membantunya maka dia akan mengacuhkan atau bahkan melebih-lebihkan cerita tentang kita kepada orang lain.
Bukan satu atau dua kali aku mengalami hal seperti ini, yaaaa abaikan saja sambil didoakan yang baik baik. Orang jahat itu ya jangan dijahati lagi, tetap sama saja sikap kita terhadapnya.
Iya.. tetap Baik saja, mari belajar menghargai orang lain ya. Masih mau punya teman teman yang baik kan? J





--SITI FATIMAH 19102014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar